Lebih dari 2.000
warga Kota Palu dan sekitarnya menjadi korban meninggal akibat tiga peristiwa
alam berkekuatan raksasa yang terjadi saat hari menjelang malam 28 September
2018. Yang pertama, gempa bumi. Goncangan bumi meruntuhkan berbagai bangunan
besar, jembatan, dan rumah-rumah hunian di wilayah pesisir. Pusat perbelanjaan,
hotel, restoran, kantor-kantor, dan pertokoan runtuh menimbun ratusan warga.
Yang kedua adalah
ombak raksasa. Setelah goncangan bumi meruntuhkan bebatuan di bawah laut teluk
Palu, air laut naik tinggi membentuk ombak raksasa sepanjang bentang teluk
dengan tinggi 3 hingga 11 meter. Dalam hitungan detik, ombak raksasa itu
menghempas wilayah pantai. Berbagai bangunan yang merintangi, jembatan besi,
dermaga, taman wisata, lapangan festival, kios-kios, masjid, mobil, motor,
hingga perkantoran dihempas tanpa kecuali berikut ratusan warga yang sedang
berada di sana.
Yang ketiga adalah
tanah runtuh. Di Balaroa, Palu Barat, kawasan padat penduduk Perumnas Balaroa,
berjarak kurang lebih 5 KM dari pantai, bumi berpijak tiba-tiba runtuh,
berlipat, berputar, sebagian naik. Ribuan orang tinggal di kelurahan itu. Saat
Magrib itu, warga kampung Bugis, nama lain kampung Balaroa, banyak yang berada
di rumah. Ketika tanah runtuh, ratusan rumah seperti dilipat dan diaduk. Atap
kayu, besi beton, paku, beling, perabot, perkakas, lemari, mobil truk, angkot,
diaduk oleh kekuatan raksasa menyisakan bau solar, dan api yang membakar dari
kompor yg menyala. Hanya sebagian warga yang bisa lari mengungsi.
Di Petobo, Palu
Timur berbatasan dengan Kabupaten Sigi, 15 KM dari teluk Palu tanah tidak hanya
runtuh. Bumi berpijak kehilangan tenaga, tanah jadi gembur dan menghisap apapun
yang ada di atasnya. Menara, tiang listrik, bangunan bertingkat, pohon-pohon
kelapa hilang ke dalam bumi yang bergerak seperti lahar dingin berwarna hitam
menggeser area persawahan dan kebun lebih dari 2 KM dari tempat semula. Sejalur
7 KM dari Petobo, yakni Desa Jono Oge, lenyap ditelan tanah runtuh yang
berjalan. Kebon palawija bisa berganti menjadi jagung di area lebih dari 200
hektar.
Segitiga kuasa
raksasa, memperlihatkan dirinya sebagai kekuatan purba yang muncul membentuk
lembah palu. Wilayah yang berada di antara Bangga, Boru, Sigi, menjadi saksi
Dislokasi, Tsunami, dan Likuefaksi. Gabungan ketiganya dalam skala 100
kilometer persegi adalah yang terbesar di dunia. Sejak peristiwa ini para ahli
harus belajar kembali memetakan gerak lempeng bumi dan lebih penting lagi
memikirkan masa depan manusia penghuni.
Peristiwa gempa,
tsunami, dan tanah runtuh tercatat dalam
sejarah Hindia Belanda. Pada 1 Desember 1927, berdasarkan makalah Daryono
(BMKG, 2011), gempa dan tsunami di Palu saat itu bersumber dari Teluk Palu
dengan ketinggian ombak mencapai 15 meter.
Catatan Belanda juga
melaporkan bahwa dasar laut mengalami longsoran sejauh 12 meter. Kemudian
disusul tsunami Parigi pada 20 Mei 1938, yang lebih dahsyat yang getarannya
terasa di seluruh Kepulauan Sulawesi dan bagian timur Kalimantan. Di masa Orde
Baru tercatat, tsunami di Tambu 14 Agustus 1968 dan Tsunami Toli-toli dan Palu
pada 1996.
Kondisi Palu yang sudah mengenal
gempa dan segala kejadian alam yang menyertainya, sebenarnya dari generasi ke
generasi dituturkan dalam tradisi lisan. Muhammad Nizam, salah seorang anak
keturunan suku Kaili yang saat ini menjadi Kepala Dinas Kominfo Sulawesi
Tengah, menceritakan bahwa gempa dan ombak besar adalah dua hal yang harus
dimaklumi para penghuni Lembah Palu.
Bahkan leluhur suku
Kaili menceritakan, saat ada kejadian gempa selain harus mencari tanah atau
pohon yang lebih tinggi, bagi para penenun kain dengan bilah-bilah kayu
tenunnya harus dipakai mengelilingi tubuhnya dan dibawa serta. Konon kayu-kayu
tenun inilah yang akan menyelamatkan jiwanya kalau-kalau tanah runtuh kayu-kayu
inilah yang akan menahan dia tidak tertelan bumi.
Sumber-sumber
hikayat tentang leluhur orang Palu, yang berasal dari Kerajaan Luwu Purba
mempunyai cerita lain. Salah seorang anak keturunan dari To Manurung, orang
yang turun dari langit, adalah pelaut tangguh yang menyusuri teluk, lembah, dan
gunung di Sulawesi. Dia adalah Sawerigading. Dia datang di Teluk Palu dengan
keinginan meminang putri penguasa Kaili yang bernama Ngilinayo.
Semula persiapan
meminang Ngilinayo sudah lengkap. Sawerigading hanya tinggal menghadiri pesta
pernikahan. Saat hari itu tiba, lembah Palu diguncang gempa hebat, tanah
runtuh, dan ombak raksasa menerjang ratusan warga yang berkumpul banyak menjadi
korban. Perahu Sawerigading bahkan bisa berpindah ke gunung. Sawerigading
bertanya dalam hatinya apa yang membuat bumi bergoncang, ombak menerjang, dan
lumpur membujur.
Dalam versi yang
lain dikisahkan Sawerigading mempunyai pengawal sakti yang selalu menemani ke
mana dia pergi. Dia adalah seekor anjing yang bernama Labolong. Labolong akan
selalu berada di depan memastikan Sawerigading aman menempuh perjalanannya.
Mendahului rombongan, Labolong ternyata melewati jalan yang bergunung-gunung.
Di satu tempat ternyata tanahnya runtuh dan Labolong tenggelam di bawahnya.
Labolong sang anjing sakti mencari siapa penyebab runtuh. Akhirnya Labolong
bertemu dengan belut penjaga tanah Kaili yang bernama Lindu.
Labolong berpikir
Lindu inilah yang akan mencelakai Sawerigading dengan membuat tanah runtuh.
Labolong pun menyerang Lindu. Terjadi perkelahian. Akibat perkelahian seluruh
bumi berpijak di Kaili berguncang. Halilintar menyambar, angin membadai. Belut
Lindu yang juga sakti tidak takut Labolong. Mereka seimbang.
Labolong lebih
cerdik. Untuk bisa memenangkan pertarungan Labolong menggigit kepala Lindu dan
menyeretnya ke tanah datar. Lindu yang sakti pun melawan. Kedua hewan sakti
yang sudah berubah wujud menjadi raksasa bertempur begitu rupa hingga lubang
lindu inilah yang di kemudian hari menjadi Danau Lindu. Goyangan badan lindu yang berbalut lumpur
inilah yang membelah lembah palu dengan sungainya yang juga bernama Sungai
Palu.
Ternyata di Lembah
Palu keduanya tidak ada yang lebih kuat hingga akhirnya keduanya pun mati.
Mendapati hal itu, pesta pun batal. Sawerigading urung menikahi Ngilinayo.
Sawerigading berduka atas kematian hewan-hewan sakti kedua negeri. Sawerigading
akhirnya mengangkat saudara Putri Ngilimayo. Setelah memperbaiki kapalnya
Sawerigading pun melanjutkan perjalanan ke negeri Cina.
Sumber : DISINI





